Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mampu membuat tamu undangan di Bawaslu Award 2016 tertawa lepas. Bukan bicara soal tugas berat pekerjaannya, JK justru bercerita soal kebingungannya membedakan posisi pejabat negara yang paling tinggi.
Pejabat negara menurut JK punya keterkaitan satu sama lain. Tanpa peran pejabat negara lainnya, pejabat yang dipilih semisal dari hasil Pemilu menurut JK tak punya keabsahan menduduki posisinya.
"Di Indonesia kadang-kadang saya kurang jelas yang mana lembaga tinggi dan yang tertinggi. Selalu dikatakan presiden dibantu wapres itu yang tertinggi. Tapi yang tertinggi siapa yang tandatangan SK-nya kan? Ternyata kita ini SK presiden ditandatangani ketua KPU. Beliau yang teken," ujar JK dalam sambutannya pada acara Bawaslu Award 2016 di Balai Sarbini, Jl Jend. Sudirman, Jakarta, Senin (29/2/2016).
Namun posisi KPU sebagai peneken hasil pemilu menurut JK bukanlah yang paling 'berkuasa'. Sebab ada Bawaslu yang punya kewenangan mengawasi pelaksanaan Pemilu yang diselenggarakan KPU. "Yang bisa tegur KPU, Bawaslu. Tapi Bawaslu yang bisa pecat DKPP. Jadi semua tinggi, jadi tidak tahu mana yang tertinggi," tutur JK disambut tawa para tamu undangan.
Para pejabat negara pun dibuat tertawa lepas oleh JK. Bawaslu Award memang dihadiri Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPR Ade Komarudin, Ketua KPU Husni Kamil Manik, Ketua Bawaslu Muhammad, Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu DKPP) Jimly Asshidiqie
seta Menteri PAN-RB Yuddy Chrisnandi.
JK dalam sambutannya mengapresiasi pelaksanaan Pilkada serentak pada 9 Desember 2015. Penyelenggara Pemilu seperti KPU, Bawaslu dan pihak terkait dinilai JK sudah berhasil menyelenggarakan Pilkada dengan baik dan aman.
"Tentu saya ingin menyampaikan ucapan selamat dan terima kasih kepada semua Anda yang hadir karena Anda sebagai bagian penyelenggara pemilu telah melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya sehingga pemilu berjalan dengan baik, aman," ujarnuya.
Menurut JK, pelaksanaan Pemilu termasuk Pilkada serentak harus tetap bermartabat. Aturan hukum termasuk etika penyelenggara dan peserta Pemilu wajib dipatuhi.
Masih dengan gaya candaannya, JK juga menyindir alat pemungutan suara yakni mencoblos dengan paku. Padahal pada Pilpres sebelumnya pemungutan suara dilakukan dengan cara mencontreng menggunakan pulpen.
"Walau kita baik pemilunya tapi kita masih Pemilu zaman kuno yaitu pakai paku. Dulu waktu zaman saya pakai pulpen sekarang balik lagi pakai paku. Tolong dipertimbangkan, jangan anggap orang Indonesia buta huruf," imbuhnya.
Bukan cuma itu JK juga menceritakan pengalaman saat dirinya menjadi observer pemilu di negara lain. Pemilu di negara Pakistan menurutnya masih dibayangi dengan ancaman teror.
"Bosan ini election, kalau di negeri saya Pakistan kalau pemilu tidak ada bom, tembak-tembak tidak seru," kata JK bercerita
yang juga memancing gelak tawa.
Karena itu, Indonesia sambung dia patut mensyukuri pelaksanaan Pemilu yang berlangsung aman. "Kita Alhamdulillah, kalau ukuran orang Pakistan termasuk Pemilu membosankan. Kita bersyukur pilkada berhasil dengan aman," ujarnya.
Tak lupa juga JK menyampaikan apresiasi atas aturan pengetatan tata cara kampanye. "Terima kasih juga (adanya) aturan sehingga kampanye tidak perlu gegap gempita. Tapi ada juga yang rugi, tukang cetak sablon. Tapi yang paling rugi penyanyi dangdut," kata JK.
0 comments:
Post a Comment